"IANFU" INDONESIA 

Laporan Temuan & Advokasi

FAQ

Interview

Interview

  1. Jugun Ianfu menurut Peneliti Independen- Ekahindra


    Ianfu berasal dari bahasa Jepang kalau diartikan secara harfiah akan menjadi Ju=Ikut, Gun=Militer, Ian =  Perempuan Fu = Penghibur menjadi perempuan penghibur yang ikut militer. Meskipun jika dilihat arti harfiahnya menjadi kurang tepat. Sejak diputuskan tahun 2004 dalam International Solidarity Conference Demanding Settlement of Japan’s Past di Korea penggunaan istilah Jugun Ianfu menjadi “Ianfu” (disertai dua tanda petik sebagai arti khusus yaitu budak seks militer Jepang). Dari banyak kasus di Asia Pasifik, terutama di Indonesia para perempuan ini tidak dibawa militer Jepang ke garis pertempuran seperti banyak kasus ditemukan Ianfu dari Cina. Para perempuan ini ditahan disuatu tempat yang lokasinya jauh dari medan pertempuran. Dalam bahasa Inggris disebut Comfort Women , dalam bahasa Cina adalah Wei-An Fu dan orang Korea menyebutnya Wianbu atau Chongsindae yang dibentuk militer Jepang sekitar tahun 1940 untuk membuat sistem pasukan sukarelawan untuk perempuan Korea yang belum menikah yang direkrut dari sekolah-sekolah. Dikemudian hari ternyata mereka direkrut untuk dijadikan Ianfu dan dikirim ke sejumlah tempat di kawasan Asia Pasifik termasuk Indonesia.

    Sejak kapan isu Ianfu ini diangkat secara internasional?

    Tahun 1992, untuk pertama kalinya Kim Hak Soon korban asal Korea Selatan membuka suara ke publik, pada perayaan 50 tahun penyerangan Pearl Harbor di Seol. Setelah itu masalah Ianfu terbongkar dan satu persatu korban dari berbagai negara ikut angkat suara. Tahun 2000 digelar Tribunal Tokyo, menuntut pertanggung jawaban politik Kaisar Hirohito dan para petinggi militer Jepang atas praktek perbudakan seksual selama perang Asia Pasifik 1932-1945. Tahun 2001 keputusan final dikeluarkan di the Haque yang menyatakan bahwa Kaisar Hirohito dan para petinggi militer bersalah dan bertanggung jawab atas nasib sekitar 200.000 perempuan yang dipaksa menjadi Ianfu. Setelah itu tekanan internasional terhadap pemerintah Jepang terus dilakukan. Pada 20 April 2007 seorang senator dari California Michael Honda mengusulkan suatu resolusi yaitu H. Res 121 yang meminta pemerintah Jepang mengakui adanya praktek sistem perbudakan seksual militer Jepang pada PD II. Meskipun H.Res 121 tidak mengikat tetapi cukup membuat tekanan internasional kepada pemerintah Jepang untuk segera mengatasi soal Ianfu ini. Sejumlah negara telah mengadopsi H.Res 121 antara lain Amerika Serikat, Canada, Belanda, Uni Eropa. Korea Selatan, Taiwan, sedangkan Filipina dan Australia masih harus berjuang di tingkat parlemen. Meski demikian pemerintah Jepang sampai hari ini belum mengakui kejahatan perangnya.

    Berapa jumlah Ianfu di Asia Pasifik? 

    Jika bicara jumlah Ianfu memang tidak ada angka pasti karena temuan peneliti berlainan versi dan metodologi. Untuk kawasan Asia Pasifik Dr. Ikuhiko Hata menyebutkan jumlah 90.000 Ianfu dalam Showa-shi no Nazo wo Ou (Inside Japan’s Showa Years, 1920s to 1980s) Volume 2, Bengeishunju, 1993 dan 20.000 dalam Ianfu to Senjo no Sei (The Comfort Women and Sex in War), Shincho-Sha, 1999 . Prof.Yoshimi Yoshiaki menyertakan ada sekitar 45.000 dan 90.000 yang sudah dipublikasikan melalui buku Comfort Women; Sexual Slavery in Japanese Military during the World War II, Columbia University Press, 2000, hal.90- 93, Prof. Su Zhiliang memunculkan angka fantastis yaitu 360.000 dan 410.000 Ianfu Kenkyu (Research on Comfort Women) dalam bahasa Cina, Shanghai Bookstore Publishers, 1999.

    Berapa jumlah Ianfu di Indonesia?

    Pada tahun 1993 LBH Yogyakarta mendata Ianfu 249 (berasal dari Jawa Tengah, Lampung, Banyuwangi dan Magetan). 1996 Forum Komunikasi ex Heiho Indonesia mendata sekitar 19.545 Ianfu seluruh Indonesia (termasuk Timor Leste). Data ini belum di verifikasi.

    Saya tahu anda juga melakukan verifikasi. Berapa angka yang anda peroleh?

    Saya mem-verifikasi data dari Yayasan Jugun Ianfu Sulawesi Selatan, hasil investigasi lapangan Dr. Koichi Kimura 1992-2002 dan hasil investigasi lapangan saya sendiri sejak 2007 hingga 2010 hingga saat ini berjumlah 1744. Wah, bukan jumlah yang kecil.

    Bagaimana anda mempercayai akurasi data itu?

    Saya bekerja sama dengan kelompok lokal di Sulawesi Selatan yang giat melakukan pendampingan Ianfu. Saya juga membantu mereka membuatkan sistem pendataan yang lebih akurat. Sejak 11 tahun terakhir saya bekerja sama dengan Dr. Koichi Kimura melakukan penyelidikan kasus Ianfu di Indonesia dan terlibat aktif kampanye internasional diberbagai forum di Asia Pasifik mengenai soal ini. Melakukan invertigasi Ianfu tidak mudah karena saya harus terjun langsung ke lapangan hanya dengan berbekal data penelitian Dr. Kimura; saya harus membuat kontak dengan orang-orang lokal yang berhubungan erat dengan komunitas korban di berbagai daerah di Indonesia.

    Siapa itu orang-orang lokal?

    Masyarakat setempat, pendamping lapangan, kerabat Ianfu, LSM, Lurah. Mereka membantu menemukan nama Ianfu dan kepastian lokasi tempat tinggalnya.

    Apakah anda mengalami kesulitan mewawancara ex Ianfu?

    Sangat tidak mudah, harus melalui pendekatan personal yang membutuhkan waktu cukup lama sebelun akhirnya melakukan wawancara mendalam dengan para Ianfu. Mereka tidak serta merta mau terbuka tentang sejarah hidupnya. Saya harus bolak-balik membangun kontak personal agar mereka mengenal saya lebih dahulu. Di Blitar tahun 2008 saya pernah mendatangi seorang Ianfu yang masih trauma dengan masa lalunya. Ia tinggal di pelosok desa. Belum 5 menit di rumahnya saya sudah diusir dengan kasar oleh Ianfu tersebut dan dengan tangan hampa di tengah malam saya kembali ke kota. Hal demikian sangat wajar terjadi dan kita harus penuh kesabaran dan kasih. Di lapangan juga banyak saya jumpai data palsu. Dalam penelitian ke Jawa Timur 2008 dan 2009 saya jumpai perempuan-perempuan di suruh mengaku diri sebagai ex Ianfu. Mereka diiming-iming oleh pendamping lokal akan mendapat uang dari pemerintah Jepang melalui uang pembangunan panti dari AWF (Asia Women’s Fund).

    Sejak kapan praktek Ianfu dimulai?

    Pembentukan pusat hiburan yang menyediakan pelacuran bagi tentara Jepang dimulai sejak 1932. Gagasan menyediakan pusat hiburan untuk mengurangi kasus pemerkosaan yang dilakukan serdadu ketika Jepang merebut Nanking Cina. Para perempuan dipasok oleh mucikari, mereka dipekerjakan di pusat-pusat hiburan yang terletak antara Shanghai dan Nanking yang dikelola langsung oleh militer. Ketika terjadi perluasan daerah penguasaan militer, orang sipil yang bersedia mengelola pusat hiburan diberi status dan pangkat paramiliter. Namun demikian militerlah yang tetap bertanggung jawab terhadap transpotasi dan pengawasan umum pusat hiburan.

Back to top