"IANFU" INDONESIA 

Laporan Temuan & Advokasi

Members Area

Recent Photos

Catatan Pinggir

No recent entries

Siapa bertanggungjawab perbudakan seksual Jugun Ianfu?

Kaisar Hirohito merupakan pemberi restu sistem Jugun Ianfu ini diterapkan di seluruh Asia Pasifik. Para pelaksana di lapangan adalah para petinggi militer yang memberi komando perang. Maka saat ini pihak yang harus bertanggung jawab atas kejahatan kemanusiaan ini adalah pemerintah Jepang.

Bagaimana Sikap Jepang?

Pemerintah Jepang masa kini tidak mengakui keterlibatannya dalam praktek perbudakan seksual di masa perang Asia Pasifik. Pemerintah Jepang berdalih Jugun Ianfu dikelola dan dioperasikan oleh pihak swasta. Pemerintah Jepang menolak meminta maaf secara resmi kepada para Jugun Ianfu. Kendatipun demikian Juli 1995 Perdana Menteri Tomiichi Murayama pernah menyiratkan permintaan maaf secara pribadi, tetapi tidak mewakili negara Jepang. Tahun 1993 Yohei Kono mewakili sekretaris kabinet Jepang memberikan pernyataan empatinya kepada korban Jugun Ianfu. Namun pada Maret 2007 Perdana Menteri Shinzo Abe mengeluarkan pernyataan yang kontroversial dengan menyanggah keterlibatan militer Jepang dalam praktek sistem perbudakan seksual.

Bagaimana Sikap Politik Indonesia?

Pemerintah Indonesia menganggap masalah Jugun Ianfu sudah selesai, bahkan mempererat hubungan bilateral dan ekonomi dengan Jepang paska perang Asia Pasifik. Namun hingga kini banyak organisasi non pemerintah terus memperjuangkan nasib Jugun Ianfu dan terus melakukan melobi ke tingkat internasional untuk menekan pemerintah Jepang agar menyelesaikan kasus perbudakan seksual ini. Kemudian upaya penelitian masih terus dilakukan untuk memperjelas sejarah buramJugun Ianfu Indonesia, berpacu dengan waktu karena para korban yang sudah lanjut usia.

Bagaimana Sikap Masyarakat Indonesia?

Banyak masyarakat yang merendahkan, serta menyisihkan para korban dari pergaulan sosial. KasusJugun Ianfu dianggap sekedar “kecelakaan” perang dengan memakai istilah “ransum Jepang”. Mencap para korban sebagai pelacur komersial. Banyak juga pihak-pihak oportunis yang berkedok membela kepentinganJugun Ianfu dan mengatasnamakan proyek kemanusiaan, namum mereka adalah calo yang mengkorupsi dana santunan yang seharusnya diterima langsung para korban.

Apa Tuntutan para Ianfu?

1. Pemerintah Jepang masa kini harus mengakui secara resmi dan meminta maaf bahwa perbudakan seksual dilakukan secara sengaja oleh negara Jepang selama perang Asia Pasifik 1931-1945.
2. Para korban diberi santunan sebagai korban perang untuk kehidupan yang sudah dihancurkan oleh militer Jepang.
3. Menuntut dimasukkannya sejarah gelap Jugun Ianfu ke dalam kurikulum sekolah di Jepang agar generasi muda Jepang mengetahui kebenaran sejarah Jepang.

Bagaimana Sikap Internasional?

Tahun 1992, untuk pertama kalinya Kim Hak Soon korban asal Korea Selatan membuka suara atas kekejaman militer Jepang terhadap dirinya ke publik. Setelah itu masalah Ianfu terbongkar dan satu persatu korban dari berbagai negara angkat suara. Tahun 2000 Tribunal Tokyo menuntut pertanggung jawaban Kaisar Hirohito dan pihak militer Jepang atas praktek perbudakan seksual Jugun Ianfu. Tahun 2001 final keputusan dikeluarkan di Tribunal The Haque. Tekanan internasional terhadap pemerintah Jepang terus Dilakukan. Oktober 2007 kongres Amerika Serikat mengeluarkan resolusi tidak mengikat yang menekan pemerintah Jepang memenuhi tanggung jawab politik atas masalah ini tetapi Jepang tetap tidak mengakui kekejian terhadap ratusan ribu perempuan di Asia dan Belanda pada masa perang Asia Pasifik

Newest Members

Dali, perempuan ini ketika mudanya setelah dijebloskan dalam perangkap "Ianjo" oleh tentara Jepang ia memutuskan tidak pulang ke Makasar karena terpaksa harus melahirkan bayi hasil perkosaan tentara Jepang. 

Dali hidup sangat susah untuk menghidupi diri ditambah bayinya. Perempuan ini harus bekerja sebagai kuli panggul di pasar selama bertahun-tahun.

Mereka yang pernah menjadi “Ianfu” tidak bisa lagi hidup  normal. Tubuh dan jiwa yang hancur siapapun tidak bisa mengembalikan lagi keadaan sebelumnya. Mereka masih sangat muda untuk menghadapi masalah hidup seberat itu dan kehilangan masa depan, masa sekolah dan remaja yang indah. Trauma kekejian yang dialaminya akan terus bersama mereka hingga akhir hayat. Perkosaan meninggalkan luka yang dalam dan trauma berkepanjangan. Tidak ada terapi fisik maupun mental yang diberikan kepada para “Ianfu” ini setelah perang. Mereka menerima kehidupan masa lalu dengan diam agar dapat bertahan hidup.

Photo: Ibu Dali. Penyintas "ianfu" dari Sulawesi.(doc)

MATAOLI MENANDAI PENELITIAN DI PULAU BURU

Istilah Mataoli muncul pada saat penelitian “ianfu” di pulau Buru tahun 2009 bersama jurnalis senior Peter Rohi dan aktivis politik Jalil Latuconsina. Kasus “ianfu” di pulau Buru dinilai paling unik di dunia karena sebagian besar mereka berasal dari pulau Jawa yang diculik militer Jepang dan dimasukan di ianjo disana. Setelah Jepang kalah, para penyintas (survivor) ditinggalkan begitu saja. Lalu mereka ditemukan oleh orang-orang dari suku Alifuru yang mendapat perintah kerja paksa (sekojo) oleh militer Jepang. Lalu para penyintas dibawa paksa oleh suku Alifuru dengan menggunakan perahu di sungai Waiapo menuju pedalaman di gunung-gunung. Disana mereka dikawinpaksa kepala-kepala suku Alifuru. Sejak itu mereka terpaksa tinggal sampai meninggalnya di pedalaman sebagai istri dan ibu kepala suku Alifuru dengan kehidupan yang masih tradisional. Mereka tidak pernah dapat pulang ke tanah Jawa. Keinginan untuk bisa pulang dan bertemu dengan keluarga terkubur bersama jasad mereka selamanya.

PELACAKAN GOA JEPANG Untuk pemetaan sejarah 

Oleh: Anugrah Saputra dan Ekahindra


Romusha merupakan tenaga buruh kerja paksa yang berumur sekira 16-40 tahun, 

baik perempuan dan laki-laki. Mereka bekerja untuk militer Jepang dengan cara dipaksa melalui aparat pemerintahan (baik tingkat kabupaten, kecamatan, maupun desa).


Pekerjaan yang mereka lakukan itu banyak terkonsentrasi membangun infrastruktur dan eksploitasi sumber daya alam untuk perang, seperti: membuat jalan, jembatan, jalan raya, rel kereta api, landasan pesawat terbang, menggali bahan tambang, dan membuat goa. Pekerjaan itu dilakukan dengan memenfaatkan penduduk yang tersebar di seluruh Indonesia. Hal itu dilakukan dengan cara propaganda pihak militer jepang dan para kolabolator pemerintah Republik Indonesia. Sehingga perintah tersebut menjadi efektif untuk memobilisasi masyarakat terutama yang ada di Pulau Jawa.

Menurut Moraji 86 tahun seorang Romusha yang masih hidup mengatakan bahwa dirinya ikut membangun 9 goa Jepang yang tersebar di kaki gunung Merapi daerah Boyolali. Akan tetapi ketika penulis melacak keberadan goa-goa Jepang tersebut hanya menemukan 6 goa dalam keadaan yang memprihatikan karena sebagian besar goa Jepang itu telah tertutup longsoran tanah. Hal ini membuktikan memorabilia Perang Asia Pasifik ini tidak pernah diperhatikan oleh Pemerintah Daerah yang seharusnya menjadi aset bangsa Indonesia yang penting sebagai jejak sejarah penjajahan militer Jepang di Indonesia 1942-1945.

Anugrah Saputra, Antropolog yang meneliti soal Romusha di Indonesia. SedangkanEkaHindra, Peneliti Independen Ianfu Indonesia

Hubungan Regional

 

Ekahindra melakukan lobby dengan tokoh-tokoh LSM di Jepang dan menggalang persatuan para pendukung ianfu di Asia. Menghadiri pertemuan dengan wakil-wakil parlemen garis keras untuk mendapatkan dukungan dari dalam negeri Jepang terhadap "Ianfu" Indonesia.

Pendekatan kemanusiaan kepada para korban

Eka Hindra bersama Ibu Mardiyem, tokoh pembela "ianfu" disaat menjelang akhir hayatnya.

Perjalanan ke pedalaman memetakan keberadaan "Ianfu"

Perjalanan ke pedalaman di Pulau Buru menempuh sungai beraliran deras dan penuh buaya.